Itulah komentar yang saya terima ketika sedang berbicara berbisik-bisik melalui telepon genggam di dalam bioskop, sementara LaE Spiderman lagi digebukin lawannya.
Suara sound system bioskop supercanggih yang sudah begitu ributnya masih saja mampu mendatangkan komentar huussshhh… berisik itu. Jadi saya kaget juga, ternyata sound system tak mempan membuat beberapa manusia berkonsentrasi kepada LaE Spiderman, tetapi malah pada suara saya. Saya malah balik bertanya, apa iya suara saya bisa sampai mengalahkan sound system Studio 21? Waduh, hancur baH kalau begitu.Sebelum mendapat komentar itu, saya juga sudah diperingatkan pengumuman di layar lebar untuk mematikan telepon genggam selama pertunjukan berlangsung.
Peringatan itu buat saya terlalu kuno. Hari gini kok harus sampai dimatikan, di-silent saja kan juga bisa atau dengan efek getar.
Burung rajawali
Kata teman saya burung rajawali sering digunakan sebagai "alat" untuk mengetahui apakah sebuah badai atau bencana alam akan datang.
Binatang gagah perkasa ini akan diam di puncak pohon tertinggi dalam posisi bertengger tidak berubah karena konsentrasinya yang penuh.
Saya tak tahu apa rajawali kakinya bisa kemeng atau semutan, saya benar tak tahu. Dengan berdiam diri dan berkonsentrasi penuh itu dan tak memedulikan aktivitas lain di sekitarnya, ia mampu mendengar dan merasakan dari mana akan datangnya badai atau bencana itu
Dengan berdiam dan tidak panik, rajawali mampu terbang di atas badai dan tidak terperangkap di dalamnya. Itu cerita teman saya. Mau cerita itu keliru apa tidak, bohong atau tidak, saya sudah dibuat malu, tersinggung, dan entah apa lagi.
Bila rajawali seperti itu, maka saya adalah lawannya rajawali. Berbeda secara ekstrem.
"Makanya, LaE, kalau mau seperti rajawali, mbok nemplok di pohon, menengo wae, kan nanti Mas yang kesamber badai," kata teman saya.
Teman saya itu benar seratus persen, saya mencoba seperti rajawali, tetapi malah tersambar badai. Mengapa? Mari saya beri tahu mengapa.
Saya tak pernah bisa diam. Bergerak, bergerak, bergerak. Bicara, bicara, bicara, kalau bisa sampai berbusa mengalahkan busa sabun cuci. Dengan keadaan seperti itu, saya diberi predikat bawel dan yang paling menusuk adalah bukan pendengar yang baik. Sama sekali tidak.
Karena sukanya gradak-gruduk, saya adalah orang yang sering kali panik. Dengan kondisi itu, saya sering tak bisa mendengar bila "badai" datang karena telinga dan mata saya sering kali tak berkonsentrasi pada tujuan mula-mula. Saya juga cepat sekali memilih untuk memindahkan konsentrasi pada keberisikan di sekeliling saya. Makanya, tujuan saya mula-mula sering tidak dapat tercapai. Kalaupun tercapai, memerlukan waktu lama sekali karena senangnya berjalan berkelak-kelok, ke sana kemari.
Itu juga yang membuat saya main-main dengan pasangan orang karena ketika saya ingin setia dan berkonsentrasi kepada pasangan saya, kok bisanya cuma beberapa hari saja.
Ketika jalan di mal dan keluar-masuk pesta, saya melihat begitu banyak "kunang-kunang" di sekitar saya yang kerlipnya memesona mata dan selalu terlihat lebih menarik daripada manusia yang saya gandeng. Maka, sambil menggandeng pacar saya, mata dan kepala saya sudah sepertiparabola yang bisa menangkap lebih dari tiga puluh saluran.
"Silent is golden"
Karena senangnya tak berkonsentrasi, saya jadi tak bisa diam dan selalu terjerat ke dalam badai. Kalau sudah demikian, selain mencak-mencak kepada manusia, saya juga mencak-mencak kepada Tuhan. Kalau kepada manusia saya akan mencak-mencak mengapa tidak berbuat ini dan itu, mengapa tidak melalukan tindakan preventif, dan sejuta mengapa.
Kepada Maha Pencipta, saya akan protes, kok saya dijerat ke dalam badai. Bukankah saya sudah memohon dalam doa, tolonglah saya, dengarkan permohonan yang diajukan, dan sebagainya dan sebagainya.
Teman saya berkomentar, "Tuhan sudah bicara sama lo, Mas. Sudah ngetok pintu rumah lo. Laaa… panjenengan ini seperti pemain sepak bola, lari ke sana-kemari. Loncat ke atas, ke bawah, dan muter-muter seperti pemain balet, yaaa… mana bisa mendengar. Tur sampean wis budek. Mbok sekali-kali diam. DI… AM. Jadi, kupingmu itu bisa berfungsi dengan seharusnya, yaitu untuk mendengar."
Ya..., saya memang telah menggunakan kuping saya untuk mendengar, tetapi mendengar yang tak semestinya, sehingga saya juga sering kali panas hanya gara-gara ada berita yang masuk ke telinga saya dengan tidak benar. Tetapi, saya memilih berkonsentrasi penuh ke dalam ketidakbenaran berita yang masuk ke telinga saya. Maka, saya panik lagi, dan berteriak lagi, dan mudah dikompori.
Tidak berkonsentrasi juga terjadi saat saya berada di mal. Seperti pada Kamis lalu, saya berencana berbelanja untuk keperluan pribadi. Dari odol, pakaian dalam, sampai kaus kaki.
Saya tiba di mal, dan kok pemandangan di mal menjadi lebih menarik daripada daftar belanjaan yang saya butuhkan. Maka, setelah tiga jam di mal, saya berakhir dengan menonton Spiderman, menyeruput air yang katanya dari sumber air terbagus berharga delapan belas ribu rupiah sebotol, membeli tas baru, sepatu baru bukan kaus kaki baru, dan celana jins baru bukan celana dalam baru. Jadi, uang yang awalnya saya ambil di ATM hanya dua ratus ribu rupiah, menjadi sejuta lebih sejuta rupiah.
Sekarang saya mengerti mengapa peringatan harus mematikan telepon genggam—bukan di-silent—di layar lebar itu senantiasa ditayangkan. Itu karena sejak sekian tahun lalu gedung bioskop bermaksud mengajar saya untuk berkonsentrasi agar tidak terganggu dengan telepon masuk, dan membantu saya terhindar dari kalimat husss… berisik dari sekian ratus manusia di dalam gedung itu yang lebih memilih berkonsentrasi kepada saya daripada ke film.
Dipikir-pikir, kalau untuk hal kecil seperti itu saja saya tak bisa berkonsentrasi, bagaimana untuk permasalahan yang lebih besar di luar gedung bioskop?
KILAS PARODI: Mari Berkonsentrasi
1. Awalnya susah sekali, terutama bagi mereka yang seperti saya. Senang berlari seperti pemain sepak bola dan meloncat seperti pemain balet. Umumnya saya selalu mengatakan, bila saya tak berteriak, berlari, dan meloncat, nanti kesempatan hilang disambar pemain sepak bola lain.
Ternyata setelah belajar fokus kepada tujuan, saya menjadi lebih tenang. Mungkin kesempatan saya hilang, tetapi saya lebih baik kehilangan kesempatan daripada saya mengambil kesempatan tanpa persiapan. Dengan berkonsentrasi dan menjadi fokus, saya kemudian mampu mengatakan tidak pada waktunya, yang berakhir dengan mengurangi pengeluaran tenaga, pemikiran, dan dana yang tidak diperlukan. Saya katakan, untuk mencapai ini susah. Saya tidak mengatakan tidak mungkin.
2. Tanpa disadari, dengan belajar konsentrasi dan fokus kepada apa yang ada di tangan, saya mengenal apa yang disebut kesetiaan.
Kalau dulu saya suka lirak-lirik dan loncat dari satu pelukan ke pelukan lain, saya terlelah-lelah karena tak pernah puas, maka saya mencoba berkonsentrasi kepada apa yang ada di tangan saya.
Ternyata hidung pacar saya itu pesek dan kata teman saya tidak cantik, cuma agak cantik, tetapi baiknya setengah mati. Kalau dulu, selingkuhan saya cantik, kulitnya mulus, sampai saya takut untuk menciumnya, tetapi ia tidak setinggi pacar saya.
Jadi, daripada saya capai, saya tak mau berkonsentrasi di pesek hidung pacar saya, saya mau konsentrasi di kebaikan hatinya. Kalau saya konsentrasinya salah tempat, seperti di pesek hidungnya itu, maka saya akan mulai lagi seperti pemain sepak bola.
3. Saya suka sekali menjelajah situs majalah-majalah kondang. Cuma acapkali saya suka panik sendiri. Awalnya mau mencari sesuatu yang utama, tetapi karena desain situsnya begitu mengundang dan setiap area dapat dibaca, saya malah klak-klik klak-klik ke mana-mana dan lupa pada tujuan mula-mula. Saudaraku, jangan menjalani hidup seperti sedang mengeklik situs. Pusing nanti. ***HoRaS BaH DoNGaN
posted by Kaki Langit. on MoNDaY, June 18, 2007 | permalink