June 30, 2007

Penerimaan CPNS


PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL KEJAKSAAN AGUNG RI TAHUN ANGGARAN 2008.
SAPA TAU ADA SAUDARA YANG BERMINAT, BANYAK POSISI BARU YANG DITAWARKAN MOHON AGAR DITERUSKAN KEPADA YANG LAIN. SEMOGA BERMANFAAT. KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA

PENGUMUMAN

Nomor : A2-KP.11.01- 07
TENTANG : PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL KEJAKSAAN AGUNG
REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2008
Kejaksaan Agung Republik Indonesia Tahun Anggaran 2007 memberikan kesempatan kepada seluruh WNI untuk diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kejagung RI untuk penempatan di seluruh Indonesia dengan persyaratan sebagai berikut :
1. Warga Negara Indonesia ;
2. Pria / Wanita;
3. Kualifikasi Pendidikan yang dibutuhkan untuk CPNS Pusat dan Daerah :
3.1. Sarjana Hukum : Pusat 22 orang, Daerah 21 orang;
3.2. Sarjana ISIP : Pusat 8 orang, Daerah 0 orang;
3.3. Sarjana Psikologi : Pusat 3 orang, Daerah 0 orang;
3.4. Sarjana Ekonomi : Pusat 6 orang, Daerah 0 orang;
3.5. Sarjana Eksakta : Pusat 7 orang, Daerah 0 orang;
3.6. Sarjana Sastra Inggris : Pusat 3 orang, Daerah 0 orang;
3.7. Sarjana Komputer : Pusat 1 orang, Daerah 0 orang;
3.8. D3 Bhs. Inggris : Pusat 2 orang, Daerah 0 orang;
3.9. D3 Komputer : Pusat 12 orang, Daerah 0 orang;
3.10. ALTRI : Pusat 10 orang, Daerah 0 orang;
3.11. D3 Akuntansi : Pusat 3 orang, Daerah 0 orang;
3.12. SLTA Sederajat : Pusat 26 orang, Daerah 288 orang;
3.13. Dokter pasca PTT untuk formasi di Pusat;
- Umum : 5 orang
- Gigi : 3 orang
3.14. S1 / D3 Semua jurusan Teknik : Pusat 15 orang,Daerah 60 orang
4. Umur per 1 Desember 2007 (Dibuktikan dengan Akte Kelahiran)
4.1. Untuk Sarjana, setinggi-tingginya 35 tahun;
4.2. Untuk D3, setinggi-tingginya 30 tahun;
4.3. Untuk SLTA, serendah-rendahnya 18 tahun dan setinggi-tingginya 28 tahun (diutamakan Pria);
5. Berbadan sehat dan tidak buta warna dan buta hati, dibuktikan dengan Surat Keterangan hasil pemeriksaan Dokter.
6. Berkelakuan Baik, dibuktikan dengan Surat Keterangan dari Kepolisian;
7. Tidak terikat dengan Instansi lain Negeri / Swasta dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterai Rp 6.000,-
8. Diutamakan memiliki Ketrampilan Komputer dibuktikan dengan sertifikat;
9. Lulus seleksi ujian dengan sistem gugur yang terdiri dari :
9.1. Ujian Tertulis Bahasa Indonesia dan Pengetahuan Umum, bagi S1 diujikan Bahasa Inggris;
9.2. Test Ketrampilan dan Wawancara;
10. Pendaftaran :
10.1. Tempat Pendaftaran :
1. Formasi Kantor Pusat diadakan di Pusat DikLat Pegawai Departemen Kehakiman dan HAM RI , Jl. Raya Gandul, Cinere, JakSel;
2. Formasi Daerah diadakan di Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan HAM setempat;
10.2. Lamaran ditujukan kepada Kejaksaan Agung R.I. ditulis tangan dengan tinta abu-abu, ditanda tangani di atasmaterai Rp 6.000,-
Dilampiri persyaratan butir 4,5,6,7,8, fotocopy ijazah terakhir yang telah dilegalisir oleh pejabat berwenang, fotocopy Kartu Pencari Kerja (AK I) dari Depnaker, Pas Photo hitam putih 3×4 (3 lembar);
10.3. Berkas lamaran dimasukkan dalam Stop Map Folio
- warna Merah bagi Calon Peserta dari Sarjana;
- warna Hijau bagi Calon Peserta dari D3;
- warna Kuning bagi Calon Peserta dari SLTA;
10.4. Waktu pendaftaran setiap hari kerja dimul ai tanggal 5 s/d 24 Oktober 2007
11. Posisi yang ditawarkan :
1. JAGUNG BAKAR (Jaksa Agung bagian Kejahatan Rakyat)
2. JAMU (Jaksa Agung muda urusan umum)
3. JAMU KUAT (Jaksa Agung Muda Urusan selingKUhan berAT)
4. JAMTANGAN (Jaksa Agung muda tanpa kewenangan)
5. JAMKARET (Jaksa Agung muda Perkara Retribusi)
6. JAMBEKER (Jaksa Agung muda yang Becus Kerja)
7. JAMPIRO (JAksa Agung muda Pidana Koropsi)
8. JAMU MAKIN SIP (Jaksa Agung Muda Urusan Maksiat, Indehoi, & Suka Intip Perempuan)
9. JAMJAMAN (Jaksa Agung Muda Jarang Mandi)
10. JAMBANGAN (Jaksa Agung Muda Banci tapi Ganteng)
11. JAMBULMU ( Jaksa Agung Muda urusan Buloggate & Mutasi anggota DPR)
12. JAMPISTRES ( Jaksa Agung Muda urusan Pidana Staf Presiden )
13. JAMUR-EN ( Jaksa Agung Muda urusan Intern )
14. JAMBLANG (Jaksa Agung Muda Berhidung beLANG)
15. JAMU BASI (Jaksa Agung Muda BAu teraSI)
16. JAMU BUSUK (jangan diminum, bisa sakit perut!!!)
17. JAMBRET (kurang ajar ni orang…) hehheheh :-P =))
Jakarta, 45 Agustus 1719
Kepala Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung Republik Indonesia
selaku Ketua Panitia

posted by Kaki Langit. on Wednesday, August 04, 2008 | permalink

June 20, 2007

SiTI NoERBaYa

Teman wanita menangis kebingungan karena calon mertua dan calon iparnya tak menyukai gaun pengantin yang telah dirancang seorang desainer untuk dia gunakan pada hari istimewa itu.
Padahal gue pribadi suka banget. Emang sederhana gak ada kerlip-kerlipnya. Pokoknya polos banget. Kerlip itu bukan gue," katanya menjelaskan setelah pada lima menit pertama tak bisa berbicara karena tenggorokannya penuh dengan sengalan tangisnya dan hidungnya tersumbat cairan yang dapat saya dengar jelas di telepon genggam.
Awalnya saya tak mengerti yang dimaksud dengan kerlip. Saya pikir gaun pengantinnya dihiasi lampu seperti hiasan Natal. Maka, sudah sepantasnya saya pikir calon mertua dan iparnya tak setuju. Ternyata si calon mertua ingin menambahkan payet-payet agar lebih kinclong dan berkilau.
Dan, yang gue sebel banget, ipar gue itu awalnya setuju-setuju saja. Eh..., begitu ada nyokap-nya, main bilang gaun pengantin gue itu teramat biasa, seperti baju sehari-hari," katanya lagi.Ceritanya berakhir dengan bahagia karena calon suaminya berhasil membungkam mulut ibu dan adiknya.Beberapa hari kemudian teman saya itu menelepon kembali dengan suara penuh gairah. "Lega rasanya. Setelah gue pikir lagi, itu kan hari bahagia gue, bukan hari bahagia mertua gue, kan? Memberi masukan sih oke-oke aja, tetapi gue dong yang akhirnya jadi decision maker-nya," katanya lagi."Gue makin cinta deh ama suami. Dia ngebelain gue. Emang udah sepantasnya laki-laki eh... suami itu harus membela istri dan keluarganya. Kan prioritasnya udah berubah sekarang. Ya, tak?" jelasnya dengan nada bertanya. Saya yang belum pernah punya mertua dan calon mertua jadi diam saja.

SeKaLi UnTuK SLaMaNYa
Saya tertarik dengan pernyataan teman saya yang berbunyi, memberi masukan sih boleh-boleh saja. Dalam hati, saya berpikir masukan memang boleh dan sah-sah saja, tetapi masalahnya apakah yang bersangkutan membutuhkan masukan? Bukankah yang namanya masukan bisa dilakukan bila seseorang membutuhkannya? Kalau tidak, yaaa… better shut your mouth up, bukan? Orang enggak ditanya, kok memberi komentar.
"Bukannya lo yang kayak gitu, LaE? Sering gak ditanya, main nyerocos aja mulutnya," komentar teman saya.
Cerita suka turut campur semacam di atas mengingatkan saya kembali pada beberapa komentar teman-teman lain soal mempersiapkan hari istimewa mereka yang diharapkan hanya terjadi sekali saja. Sama seperti waktu game over tiba. Sekali, terus lenyap selamanya. Bahkan beberapa dari cerita menyebalkan semacam itu telah dimulai saat mereka masih dalam taraf pacaran.
Teman saya seorang pria bercerita, istrinya sekarang yang sudah dikawini sepuluh tahun dan telah dianugerahi dua anak awalnya tak disetujui kedua orangtuanya.
"Gara-garanya calon istri gue itu janda," kata dia menjelaskan. Ia kemudian mengajukan pernyataan yang juga sebuah pertanyaan, "Emang kenapa kalau janda. Ya, kan?"
Saya mengiyakan. Janda atau tidak janda, mengapa mesti menjadi sangat penting? Sama seperti cerita saya beberapa waktu lalu, kalau menikah dengan mereka yang bekerja di dunia hiburan, sering kali membuat orangtua tak setuju karena alasan klise: godaannya terlalu banyak, risikonya tinggi.
Padahal, berbuat mesum bukanlah gara-gara jenis pekerjaan atau profesi, semuanya berasal dari isi kepala yang mesum. Mau itu seorang hakim, pebisnis, atau pendeta sekalipun, bahkan manusia bernama mertua dan orangtua. Mungkin malu mengaku kalau sumber kemesuman ada di dalam kepala, maka paling mudah profesilah yang dijadikan kambing dan kemudian dicat hitam.
Apakah bila menikahi yang bukan janda akan lebih tidak memalukan? Bagaimana bila tidak janda, tetapi malah tidak perawan?
"Bang, janda kan kelihatan dari statusnya, perawan kan enggak bisa kelihatan. Kalau perawat, itu mah... jelas beuneeerr," lanjutnya lagi.
InGaT, ITu HaK ELo!
Setelah gaun pengantin dan setelah status janda, maka yang terakhir soal menentukan siapa yang diundang. Pada suatu hari Minggu, saya hadir dalam perkawinan akbar seorang teman wanita. Ia datang dari kalangan berada, sementara saya juga dari kalangan berada. Berada di mana-mana, tetapi tidak kaya. "Kalau lo kawin, Bang, yang datang bukan menteri, tetapi mantri," kata sahabat saya.
Beberapa minggu setelah itu, saya bertemu dengan teman saya yang sekarang sudah jadi nyonya itu. Saya sampaikan resepsi perkawinannya itu benar-benar memesona saya.
"Udah deh gak usah omong gitu. Akbar si emang akbar, tapi gue enggak kenal semua yang datang. Sebagian besar itu adalah temen bokap, temen nyokap, dan temen mertua gue. Ngapain coba buat hajatan besar, gue yang kawin enggak kenal sama tamu-tamunya," katanya.
"Pejabat apalagi. Gue begaul ama pejabat? Sejak kapan, coba? Emang mereka peduli ama gue, abis nyalamin juga terus lupa. Yang tetep diinget mah bokap gue. Kalau foto bareng yang pertama harus sama bapak-bapak itu. Temen gue selalu belakangan. Padahal, gue jauh lebih senang foto bareng sama temen gue daripada bapak-bapak yang enggak gue kenal dan mungkin enggak pengen kenalan sama gue juga. Kok, mereka yang lebih dulu difoto. By the way itu acara gue, bukan acara para pejabat dan juga bukan acara babe gue, kan?"
Mendengar ceritanya, saya teringat waktu ayah saya napasnya diberhentikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, setelah diberi kesempatan menghirup udara selama tujuh puluh sekian tahun.
Beberapa teman mengingatkan saya. "Lo ingat, itu bokap lo. Lo berhak yang ngatur ini dan itu. Jangan ada orang yang bisa menentukan petinya mesti gini, bunganya mesti gitu, dikubur di sini atau di situ," kata salah satu dari mereka yang cukup emosional menjelaskan kepada saya karena waktu ayahnya meninggal ia tak berkuasa apa-apa, karena tiba-tiba dari segala penjuru datang pertolongan yang mahamulia, sampai ia dilupakan sebagai anak untuk memiliki hak menentukan ini dan itu.
"Gue mau ngulang lagi kan enggak mungkin. Emang babe gue bisa di-rewind apa? Itu tape recorder, booo," katanya dengan nada masih terdengar kesal.
Setelah mendengar cerita-cerita beberapa korban egoisme manusia, saya membaringkan diri di sofa cokelat tua. Dan, pikiran mulai melayang melihat langit-langit apartemen. Saya mencoba untuk mengerti mengapa sampai tua sekalipun orangtua tetap menganggap anaknya adalah anak kecil yang jam terbangnya senantiasa dirasakan selalu kurang. Dan, saya hanya mengira-ngira, kalau orangtua melakukan itu mungkin karena orangtuanya para orangtua juga memperlakukan mereka seperti anak kecil. Jadi, bukan penyakit saja yang bisa diwariskan, ketidakpercayaan pun demikian tampaknya.
KILAS PA' RODI: DiAm SeJeNaK
1. Kalau sebagai orangtua Anda begitu mencintai anak Anda dan memutuskan untuk membiayai hajatan sekali seumur hidup itu, pikirkanlah masak-masak sebelumnya. Tak hanya soal berapa besar biaya yang akan dikeluarkan, tetapi berapa besar kepercayaan yang Anda akan berikan kepada anak Anda untuk mempersiapkan acara istimewa itu.
2. Bila Anda membayari semua, itu tidak berarti Anda berhak menentukan semau Anda karena Anda berpikir uangnya keluar dari kantong Anda. Jadi, karena uang keluar dari Anda, maka Anda berhak menentukan ini dan itu.
Sadari sejak awal, ini perkawinan anak Anda yang Anda cintai. Bila Anda mencintai mereka, uang yang Anda keluarkan bukanlah seperti sedang mensponsori acara perkawinan yang karena bersifat sponsorship lalu Anda minta imbalan atas uang yang sudah Anda keluarkan, dengan cara "Papa dan Mama minta tante itu diundang, om ini diundang, Papa mau merayakannya di sini dan bukan di sana". Dan sejuta papa mau dan mama mau.
3. Bila Anda menikah dan kebetulan Anda begitu kondangnya sehingga sejuta produk mau mensponsori acara istimewa itu, janganlah terburu-buru berpikir sponsor itu dapat mengirit uang keluar dan malah mendatangkan uang masuk yang mungkin Anda butuhkan untuk membangun dunia baru.
Ingatlah, ini perkawinan, bukan medium promosi dan Anda bukan billboard atau halaman iklan seperti di majalah atau koran. Jangan biarkan perayaan perkawinan Anda diperkosa. Kecuali, Anda memang bersedia diperkosa dan bersedia diperlakukan seperti billboard.
4. Bila Anda sebagai orangtua yang benar mencintai anak Anda, cobalah Anda diam sejenak. Kunci mulut Anda, untuk sementara waktu digembok saja kalau perlu dan kuncinya dibuang ke kali. Jangan mengambil kunci cadangan. Ini bukan perkawinan Anda, ini perkawinan anak Anda. Bukankah yang penting Anda melihat anak Anda bahagia ketimbang Anda senantiasa yang selalu mau bahagia. Singkatnya, ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Biasakan latihan untuk hal yang pertama.
5. Bila Anda berpikir apa yang Anda sarankan adalah yang terbaik, jangan terburu-buru yakin anak Anda akan berpikir hal yang sama. Jangan sakit hati bila masukan Anda tak digubris anak Anda. Dan, jangan pernah keluar perkataan dari mulut Anda bahwa anak Anda termasuk anak buahnya Malin Kundang.
6. Bila ada waktu sejenak untuk merenung sebelum hajatan akan diadakan, lakukan itu. Tanyakan kepada diri sendiri mengapa Anda sampai begitu merasa penting mengundang pribadi kondang untuk hadir dalam acara perkawinan anak Anda, sementara anak Anda yang mau menikah tak pernah mengenal orang kondang yang Anda undang itu? Apakah keputusan itu untuk sebuah sopan santun atau untuk menaikkan gengsi Anda?
Tanyakan juga mengapa sampai begitu pentingnya Anda menghubungi beberapa media untuk meliput perkawinan anak Anda. ***HoRaS JaLA GaBbe

posted by Kaki Langit. on Wednesday, June 14, 2007 | permalink

June 18, 2007

DoN’T JudGE a BOoK By iTS CovER

Pada suatu siang sambil makan ikan dan wortel rebus, saya mengobrol dengan teman pria yang bekerja di satu biro iklan terkemuka dan seorang perempuan muda berprofesi sebagai penata gaya paruh waktu di sebuah majalah mode perempuan.
Obrolan kami menyangkut soal pakaian yang mampu membuat teman pria saya dijebloskan ke hotel prodeo selama dua hari.
Begini ceritanya. Teman pria saya itu berlibur ke Bali dan seperti nyaris setiap manusia Jakarta yang berakhir pekan di Pulau Dewata, ke tempat hura-hura senantiasa ada dalam jadwal paling atas untuk dilakoni. Tak terkecuali teman pria saya itu.
Pada sebuah malam pada masa liburan itu, ia bersama teman-temannya ingin menghadiri pesta akbar kaum muda. Dengan mengendarai mobil, tibalah mereka di tempat penuh sukacita itu. Dengan banyaknya penggunaan narkoba yang nyaris senantiasa hadir dalam acara hura-hura semacam itu, pemeriksaan oleh aparat pun seketat korset di tubuh perempuan, agar payudara dapat tampak indah dan pinggang langsung bisa langsing seketika, meski untuk sesaat saja. Mirip narkobalah.

RaMPaS "COuTuRE"
Sialnya, pemeriksaan ketat oleh aparat itu membuahkan hasil tertangkapnya seorang dari empat pria di dalam mobil itu. Teman pria saya naik darah karena kemudian aparat memvonis keempat manusia dalam satu mobil itu bersalah. Padahal, hanya satu rekan mereka yang sembunyi-sembunyi membawa "makanan" yang katanya nikmat itu. Tak ada kompromi, keempatnya dijebloskan ke hotel prodeo berbintang satu itu. Yang berbintang lima, Anda tahu di mana tempatnya, bukan?
Teman perempuan saya menambahkan—ia kebetulan datang juga ke pesta akbar itu—"Lagian Mas, dia ini (sambil menunjuk ke teman pria saya itu), penampilannya mirip preman. Rambutnya diwarnai merah, sudah begitu bajunya merah, bertato pula. Bagaimana polisi mau percaya melihat penampilan kayak gitu sebagai pria baik-baik. Ya, kan?" katanya menjelaskan dengan suara tinggi.
Saya tak tahu apakah saya akan membenarkan pertanyaan itu. Tetapi, ceritanya menginspirasi saya menulis "Parodi" pada hari Minggu ini.
Pakaian yang dikenakan seseorang—tentu didasari seleranya masing-masing—ternyata mampu membuat orang lain memberi label, bahkan menghakimi. Jadi, bila ada pepatah bilang don’t judge a book by its cover, maka sekarang harus ada pepatah baru, don’t judge a look by its clothes.
Saya kemudian bertanya, apakah benar tampilan preman seperti yang dikatakan teman perempuan saya itu? Badan berotot, perut buncit, besar, hitam, bertato, merokok, muka sangar, dan rambut dicat?
Padahal, mungkin saja ada preman pakai setelan resmi bermerek, preman yang mulus dan wangi, duduk-duduk di kafe dan hotel papan atas. Jadi, saya bingung untuk mengiyakan pertanyaan itu.
Dua minggu lalu saya duduk-duduk di sebuah kafe. Salah satu pramusajinya memperingatkan saya agar tas kerja saya dijaga baik-baik. Kata dia, beberapa hari lalu maling yang tertangkap mencuri tas salah satu pengunjung, berpakaian sangat necis dan berdasi, bersama seorang perempuan yang penampilannya bukan penampilan maling.
Saya bingung lagi. Bagaimanakah penampilan sesungguhnya seorang maling dan yang bukan maling itu? Necis dan pakai dasi, atau tidak necis serta tidak pakai dasi? Karena saya dan Anda pasti tahu ada banyak maling pakai dasi dan yang tanpa dasi, bukan? Teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan kosmetik baru kecolongan uang perusahaannya berjuta-juta rupiah oleh sang manajer pemasaran yang kebetulan pernah diperkenalkan kepada saya.
Ceritanya nyaris tak saya percayai karena kalau mengingat sosok si manajer pemasaran, dia adalah perempuan sangat anggun, berbicara sangat halus dan santun, sangat cantik, mirip wajah seorang socialite, rasanya tak mungkin ia pencuri. Alhasil, ia malah kini jadi buron. Menurut cerita tambahannya, di perusahaan sebelumnya, perempuan anggun itu juga telah melakukan hal yang sama,
"Booo..., kalau itu namanya maling couture, ya?" celetuk teman saya.

MaJU TaK GeNTaR MEmBeLA YaNG BaYAR

Pakaian yang dikenakan ternyata dapat digunakan sebagai alat kamuflase pribadi sesungguhnya. Dokter berseragam putih yang artinya suci, ternyata bisa saja si putih bukanlah si suci. Mereka yang berkoar-koar soal hidup harus dalam kebenaran, malah bisa saja paling tak benar. Bahkan, mereka yang menyebut dirinya sebagai pelindung juga tak menjamin mereka pelindung yang benar-benar mau melindungi. Meminjam ucapan Gde Prama di sebuah seminar, "Maju tak gentar membela yang bayar.""Gue sebal banget. Gue selama ini hidup berusaha benar, enggak pernah pakai narkoba, kok yaaa… gue akhirnya masuk bui dua hari," kata teman pria saya itu.Ia melanjutkan ceritanya lagi, aparat langsung menuduh mereka sama saja. Saya berkata dalam hati, mungkin polisinya saat itu punya falsafah, karena nila setitik rusak semua di dalam mobil, tanpa mau memberi ruang untuk mendengar. Apalagi melihat cara berpakaian yang katanya ala maling atau preman itu.Saya tersinggung mendengar kalimat yang keluar dari nurani saya sendiri itu. Tanpa mau memberi ruang untuk mendengar. Saya jarang sekali mau memberi ruang untuk mendengar, untuk memberi kesempatan, untuk melatih memercayai dan memercayai kembali setelah kesalahan diperbuat seseorang, saya jarang untuk tidak memvonis seseorang dari tampilan luarnya."Aduh teman gue punya anak narkoba, semua barang-barang habis dijual, suka bohong dan enggak bisa dipercaya," kata teman saya.Katakan itu benar, saya memang harus berhati-hati, tetapi itu tidak berarti kalau ada kejadian barang yang hilang saya bisa dengan mudah dan langsung menudingkan telunjuk saya kepada dia. Karena selain barang saya pernah hilang dicolong manusia bebas narkoba, saya pun adalah manusia yang tak bisa dipercaya. Kalaupun bisa, cuma musiman. Kalau melihat negeri tercinta ini, bukankah sudah banyak uang hilang dari mereka yang bukan pengguna narkoba?"Makanya Mas, kalau mau jadi serigala enggak usah pakai bulu domba," kata teman perempuan saya."Terus pakai apa dong?" tanya saya."Yaaa, pakai bulu sendiri laah... yao. Kurang tebal emang, sampai perlu minjem?" balas dia.

KiLaS Pa' RoDI
TErBUkA DaN MEnDeNGaRLaH

1. Ini jarang bisa saya lakukan.
"Boong…. Lo bukannya paling gampang buka-buka? Buka borok orang, maksudnya," kata teman saya.
Saya menyetujui. Saya sangat gampang melakukan itu. Tak hanya membuka, saya bahkan akan menyimpan borok itu selama mungkin kalau bisa. Itu baru satu orang, dan masih ada beberapa orang lain. Karena saya membiarkan demikian, maka saya menumpuk kotoran dalam hati yang membuat saya kalau bertemu dengan yang bersangkutan saya sudah tak memercayainya.
Padahal, cerita keborokan orang lain itu umumnya karena saya mendapat informasi dari orang lain, bukan karena pengalaman sendiri dengan yang bersangkutan. Cerita yang masuk ke telinga saya pun sebetulnya tak sepenuhnya bisa dipercaya, bukan? Banyak bumbu penyedap yang sekarang ditawarkan dan saya memilih terbuka dan mendengar sesuatu yang belum tentu benar itu ketimbang menjadi terbuka dan mendengar serta diam saja.
2. Saya pernah memarahi anak buah saya dan tak memberi kesempatan kepadanya untuk bercerita. Maka, ketika saya membiarkan mulut saya mengeluarkan amarah membabi buta bak mahasiswa Korea di Virginia dengan senjata dan amunisinya yang banyak dan mampu menewaskan puluhan orang, anak buah saya diam saja. Tentu saja saya mengerti mengapa dia diam saja, la wong saya pernah jadi anak buah dan mengalami hal yang sama. Tak ada gunanya membela diri di tengah kobaran amarah atasan.
Selang dua jam kemudian, ia mendatangi saya. Ia kemudian menjelaskan mengapa ia tak bisa datang tepat waktu seperti dijanjikan. "Ibu saya masuk rumah sakit, Mas. Saya tadi mengantar beliau, kemudian baru ke kantor. Maaf saya tak sempat memberi tahu."
3. Maka, saudara-saudara yang kukasihi, berilah ruang di telinga dan hati Anda untuk mendengar. Sejenak saja. Kadang dengan mendengar, Anda mungkin tak perlu sampai harus dipermalukan. Kalaupun Anda seorang atasan, aparat keamanan, atau apa saja, cobalah untuk terbuka dan mendengar terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan menghakimi. Kalau Anda tak mau, coba sekarang bayangkan Anda yang menjadi pihak yang sedang membutuhkan telinga yang mendengar.

posted by Kaki Langit. on MoNday, June 18, 2007 | permalink|HoRaS BaH

DON'T DISTURB ME

Itulah komentar yang saya terima ketika sedang berbicara berbisik-bisik melalui telepon genggam di dalam bioskop, sementara LaE Spiderman lagi digebukin lawannya.
Suara sound system bioskop supercanggih yang sudah begitu ributnya masih saja mampu mendatangkan komentar huussshhh… berisik itu. Jadi saya kaget juga, ternyata sound system tak mempan membuat beberapa manusia berkonsentrasi kepada LaE Spiderman, tetapi malah pada suara saya. Saya malah balik bertanya, apa iya suara saya bisa sampai mengalahkan sound system Studio 21? Waduh, hancur baH kalau begitu.Sebelum mendapat komentar itu, saya juga sudah diperingatkan pengumuman di layar lebar untuk mematikan telepon genggam selama pertunjukan berlangsung.
Peringatan itu buat saya terlalu kuno. Hari gini kok harus sampai dimatikan, di-silent saja kan juga bisa atau dengan efek getar.

Burung rajawali
Kata teman saya burung rajawali sering digunakan sebagai "alat" untuk mengetahui apakah sebuah badai atau bencana alam akan datang.
Binatang gagah perkasa ini akan diam di puncak pohon tertinggi dalam posisi bertengger tidak berubah karena konsentrasinya yang penuh.
Saya tak tahu apa rajawali kakinya bisa kemeng atau semutan, saya benar tak tahu. Dengan berdiam diri dan berkonsentrasi penuh itu dan tak memedulikan aktivitas lain di sekitarnya, ia mampu mendengar dan merasakan dari mana akan datangnya badai atau bencana itu
Dengan berdiam dan tidak panik, rajawali mampu terbang di atas badai dan tidak terperangkap di dalamnya. Itu cerita teman saya. Mau cerita itu keliru apa tidak, bohong atau tidak, saya sudah dibuat malu, tersinggung, dan entah apa lagi.
Bila rajawali seperti itu, maka saya adalah lawannya rajawali. Berbeda secara ekstrem.
"Makanya, LaE, kalau mau seperti rajawali, mbok nemplok di pohon, menengo wae, kan nanti Mas yang kesamber badai," kata teman saya.
Teman saya itu benar seratus persen, saya mencoba seperti rajawali, tetapi malah tersambar badai. Mengapa? Mari saya beri tahu mengapa.
Saya tak pernah bisa diam. Bergerak, bergerak, bergerak. Bicara, bicara, bicara, kalau bisa sampai berbusa mengalahkan busa sabun cuci. Dengan keadaan seperti itu, saya diberi predikat bawel dan yang paling menusuk adalah bukan pendengar yang baik. Sama sekali tidak.
Karena sukanya gradak-gruduk, saya adalah orang yang sering kali panik. Dengan kondisi itu, saya sering tak bisa mendengar bila "badai" datang karena telinga dan mata saya sering kali tak berkonsentrasi pada tujuan mula-mula. Saya juga cepat sekali memilih untuk memindahkan konsentrasi pada keberisikan di sekeliling saya. Makanya, tujuan saya mula-mula sering tidak dapat tercapai. Kalaupun tercapai, memerlukan waktu lama sekali karena senangnya berjalan berkelak-kelok, ke sana kemari.
Itu juga yang membuat saya main-main dengan pasangan orang karena ketika saya ingin setia dan berkonsentrasi kepada pasangan saya, kok bisanya cuma beberapa hari saja.
Ketika jalan di mal dan keluar-masuk pesta, saya melihat begitu banyak "kunang-kunang" di sekitar saya yang kerlipnya memesona mata dan selalu terlihat lebih menarik daripada manusia yang saya gandeng. Maka, sambil menggandeng pacar saya, mata dan kepala saya sudah sepertiparabola yang bisa menangkap lebih dari tiga puluh saluran.

"Silent is golden"
Karena senangnya tak berkonsentrasi, saya jadi tak bisa diam dan selalu terjerat ke dalam badai. Kalau sudah demikian, selain mencak-mencak kepada manusia, saya juga mencak-mencak kepada Tuhan. Kalau kepada manusia saya akan mencak-mencak mengapa tidak berbuat ini dan itu, mengapa tidak melalukan tindakan preventif, dan sejuta mengapa.
Kepada Maha Pencipta, saya akan protes, kok saya dijerat ke dalam badai. Bukankah saya sudah memohon dalam doa, tolonglah saya, dengarkan permohonan yang diajukan, dan sebagainya dan sebagainya.
Teman saya berkomentar, "Tuhan sudah bicara sama lo, Mas. Sudah ngetok pintu rumah lo. Laaa… panjenengan ini seperti pemain sepak bola, lari ke sana-kemari. Loncat ke atas, ke bawah, dan muter-muter seperti pemain balet, yaaa… mana bisa mendengar. Tur sampean wis budek. Mbok sekali-kali diam. DI… AM. Jadi, kupingmu itu bisa berfungsi dengan seharusnya, yaitu untuk mendengar."
Ya..., saya memang telah menggunakan kuping saya untuk mendengar, tetapi mendengar yang tak semestinya, sehingga saya juga sering kali panas hanya gara-gara ada berita yang masuk ke telinga saya dengan tidak benar. Tetapi, saya memilih berkonsentrasi penuh ke dalam ketidakbenaran berita yang masuk ke telinga saya. Maka, saya panik lagi, dan berteriak lagi, dan mudah dikompori.
Tidak berkonsentrasi juga terjadi saat saya berada di mal. Seperti pada Kamis lalu, saya berencana berbelanja untuk keperluan pribadi. Dari odol, pakaian dalam, sampai kaus kaki.
Saya tiba di mal, dan kok pemandangan di mal menjadi lebih menarik daripada daftar belanjaan yang saya butuhkan. Maka, setelah tiga jam di mal, saya berakhir dengan menonton Spiderman, menyeruput air yang katanya dari sumber air terbagus berharga delapan belas ribu rupiah sebotol, membeli tas baru, sepatu baru bukan kaus kaki baru, dan celana jins baru bukan celana dalam baru. Jadi, uang yang awalnya saya ambil di ATM hanya dua ratus ribu rupiah, menjadi sejuta lebih sejuta rupiah.
Sekarang saya mengerti mengapa peringatan harus mematikan telepon genggam—bukan di-silent—di layar lebar itu senantiasa ditayangkan. Itu karena sejak sekian tahun lalu gedung bioskop bermaksud mengajar saya untuk berkonsentrasi agar tidak terganggu dengan telepon masuk, dan membantu saya terhindar dari kalimat husss… berisik dari sekian ratus manusia di dalam gedung itu yang lebih memilih berkonsentrasi kepada saya daripada ke film.
Dipikir-pikir, kalau untuk hal kecil seperti itu saja saya tak bisa berkonsentrasi, bagaimana untuk permasalahan yang lebih besar di luar gedung bioskop?

KILAS PARODI: Mari Berkonsentrasi
1. Awalnya susah sekali, terutama bagi mereka yang seperti saya. Senang berlari seperti pemain sepak bola dan meloncat seperti pemain balet. Umumnya saya selalu mengatakan, bila saya tak berteriak, berlari, dan meloncat, nanti kesempatan hilang disambar pemain sepak bola lain.
Ternyata setelah belajar fokus kepada tujuan, saya menjadi lebih tenang. Mungkin kesempatan saya hilang, tetapi saya lebih baik kehilangan kesempatan daripada saya mengambil kesempatan tanpa persiapan. Dengan berkonsentrasi dan menjadi fokus, saya kemudian mampu mengatakan tidak pada waktunya, yang berakhir dengan mengurangi pengeluaran tenaga, pemikiran, dan dana yang tidak diperlukan. Saya katakan, untuk mencapai ini susah. Saya tidak mengatakan tidak mungkin.
2. Tanpa disadari, dengan belajar konsentrasi dan fokus kepada apa yang ada di tangan, saya mengenal apa yang disebut kesetiaan.
Kalau dulu saya suka lirak-lirik dan loncat dari satu pelukan ke pelukan lain, saya terlelah-lelah karena tak pernah puas, maka saya mencoba berkonsentrasi kepada apa yang ada di tangan saya.
Ternyata hidung pacar saya itu pesek dan kata teman saya tidak cantik, cuma agak cantik, tetapi baiknya setengah mati. Kalau dulu, selingkuhan saya cantik, kulitnya mulus, sampai saya takut untuk menciumnya, tetapi ia tidak setinggi pacar saya.
Jadi, daripada saya capai, saya tak mau berkonsentrasi di pesek hidung pacar saya, saya mau konsentrasi di kebaikan hatinya. Kalau saya konsentrasinya salah tempat, seperti di pesek hidungnya itu, maka saya akan mulai lagi seperti pemain sepak bola.
3. Saya suka sekali menjelajah situs majalah-majalah kondang. Cuma acapkali saya suka panik sendiri. Awalnya mau mencari sesuatu yang utama, tetapi karena desain situsnya begitu mengundang dan setiap area dapat dibaca, saya malah klak-klik klak-klik ke mana-mana dan lupa pada tujuan mula-mula. Saudaraku, jangan menjalani hidup seperti sedang mengeklik situs. Pusing nanti. ***HoRaS BaH DoNGaN


posted by Kaki Langit. on MoNDaY, June 18, 2007 | permalink

June 15, 2007

Pemerkosaan

Sampai empat jam sebelum tenggat untuk tulisan ini harus dikirimkan melalui surat elektronik, saya tak tahu mau menulis apa. Saya bergumam kepada Sang Kuasa. "Tuhan aku ini mesti nulis apa ya?"

Kemudian saya duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, kepala kosong, dan kemudian memutuskan menyalahkan pesawat televisi yang kata teman saya pantasnya dikirim ke pasar loak di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.

"Mbok beli teve datar gitu loh," katanya. Saya cuma menggelengkan kepala karena kantong saya sedang datar, bahkan mungkin lebih datar dari teve datar.

Kemudian saya menghubungi teman saya untuk menanyakan kabarnya dan berakhir dengan mendengar cerita "pemerkosaan" dirinya oleh kliennya. Singkat cerita ia kesal karena konsep dan ide yang dia sodorkan kepada kliennya ditolak. Penolakan itu dilakukan orang baru yang sok tahu, masih muda, baru bekerja tiga bulan, tidak pandai, dan baru menjabat posisi supertinggi.

"Belagunya ampun, Mas. Kalau enggak inget itu klien lama, sudah saya tembak," katanya kesal.

Kekesalannya timbul karena pada akhirnya perusahaan periklanannya harus mengikuti kesenangan kliennya.

"Yang menyebalkan, bos saya juga cuma manggut-manggut ngebelaiin klien," katanya lagi. "Mengapa enggak mereka ngerjain saja sendiri kalau mau ini, mau itu. Gue kan bukan tukang kebun atau pembantu. Dasar …," kata teman saya lagi. (Titik-titik itu tak perlu ditulis, bukan? Saya yakin Anda tahu kata itu, karena saya juga yakin, Anda pernah ada dalam situasi yang sama, bukan?). "Saya benar-benar seperti diperkosa," lanjutnya lagi.

"Bo"

"Diperkosa"? Yah…, sangat tidak enak, meski secara harfiah saya belum pernah diperkosa. Tetapi, pemerkosaan adalah tindakan satu arah dan tak membiarkan pihak lain dapat kesempatan.

"Namanya juga diperkosa, Mas. Sampean ini yaaa…, kok masih goblok saja. Kalau pihak lain dikasih kesempatan dan berakhir menjadi suka sama suka alias win-win situation, itu mah bukan pemerkosaan, boo. Itu namanya kenikmatan. Kalau itu yang terjadi, gue ikutan yaaa…," kata teman saya.

Saya menegur teman saya untuk tidak menggunakan kata bo lagi. Menurut Ratih Sanggarwati di majalah Tempo, bo itu berasal dari kata cabo. "Hua-ha-ha-ha. Lo tuh memang pantasnya disebut bo. Lha wong sudah jadi cabo sejak kapan?" kata teman saya masih tergelak.

Tentu saya tergelak juga mendengar komentar teman saya itu. Ternyata semuanya benar. Saya adalah cabo karena bukan cuma pernah "diperkosa", tetapi juga senang membiarkan diri "diperkosa".

Waktu masih bekerja di majalah, waduh… kegiatan pemerkosaan itu banyak kali terjadi. Semua dilakukan hanya untuk uang. Klien mau ini, saya nurut. Klien mau itu, saya manut. Terutama kalau klien dengan iklan-iklan yang disodorkan memberi gengsi kepada majalah saya, bahkan dapat menjadi pancingan buat klien lain mulai berpikir memasang iklan mereka.

Beberapa kali saya juga diminta menjadi pembicara, padahal sejujurnya saya dibayar untuk berbicara ini dan itu mengenai sebuah produk. Bahkan saya tahu produknya juga cuma biasa-biasa saja. Jadi, saya membiarkan nurani saya diperkosa karena imbalannya lumayan oke."Ohhh… sekarang gue ngerti kenapa lo jadi banyak duit. Ok, ok, ok. Ternyata lo gampang diperkosa ya, Jeung," kata teman wanita saya. Ada teman pria saya yang tak suka minum dan tak pernah pergi ke kelab malam untuk melihat perempuan-perempuan yang… gitu deh, dan sangat mencintai istri dan anaknya. Pada suatu hari teman saya itu diajak salah satu kliennya untuk menemani minum-minum di salah satu bar di Jakarta Kota.

Ketika undangan itu dia tolak, ia ditegur atasannya karena klien menghubungi si bos. Teman saya menjelaskan alasannya, si bos menjelaskan alasannya juga. "Apa salahnya ke bar buat menemani, kan enggak papa. Apalagi mereka klien besar kita." Alhasil, ia menemani klien tadi malam itu meski hatinya tak bahagia.

Buta

"Gue rasanya malu dan merasa bersalah kepada istri gue," katanya lagi.

Mendengar ceritanya itu, saya mengerti perasaannya. Saat saya pertama kali membiarkan diri diperkosa, perasaan itu menghantui saya. Itu terjadi sekian hari saja. Tingkat pemerkosaan awalnya hanya ringan, artinya imbalan uang yang saya dapat masih biasa-biasa saja, tetapi dengan berjalannya waktu imbalan membesar bila saya mau makin kerap diperkosa.

Saya yang awalnya merasa bersalah, lama-lama terbiasa. Bahkan, rasa bersalah itu menjadi hal yang biasa dan menjadi tak bersalah sehingga anak buah saya sampai mau tak mau harus ikut kegiatan itu. Saya menjerat orang untuk diperkosa bersama saya.

Jadi, saya ternyata senang diperkosa, saya membiarkan diri saya dikerjai bertubi-tubi. Dan pemerkosaan itu juga terjadi dalam hidup saya pribadi. The love of money membuat saya diperkosa uang.

Saya yang awalnya tak terlalu peduli, sekarang karena merasa nikmatnya memiliki uang banyak, siap dijajah oleh uang. Saya kerja pontang-panting, mengusahakan jalan apa pun untuk memilikinya, meski itu menyakitkan banyak orang.

Saya diperkosa nafsu saya yang besar untuk bermain di ranjang orang lain, maka milik orang pun saya embat juga, tanpa rasa bersalah. Bahkan, saya bisa mengatakan, "Yang suka kan dia, yaaa… salahin dia."

Saya diperkosa dengan sifat mudah marah dan tersinggung saya, maka saya senang membuat orang berduka, baik melalui tulisan maupun perkataan saya. Mulut saya seperti pelantang suara yang tak pernah berhenti menyuarakan kejelekan orang ke mana-mana, bahkan di hadapan klien saya saat selesai presentasi. Saya sangat membiarkan pemerkosaan itu terjadi karena menjelekkan dan mencelakakan orang menjadi kesenangan.

Kesenangan saya diperkosa dan membiarkan itu terjadi sampai membuat saya tak lagi bisa membedakan yang benar dari yang tidak benar. Kemudian yang tidak benar bisa menjadi benar di mata saya melalui otak saya yang mampu merasionalisasi semuanya.

Itu juga yang menyebabkan saya menjadi kebal dan tak lagi bisa mendengar suara hati saya yang sesungguhnya. Saya buta luar dalam. "Maas… ini lho ada tawaran belajar huruf Braille, mau tak?" celetuk teman saya.

Mungkin Ini Caranya agar Tak Diperkosa

1. Pertama jangan mau diperkosa. Niat ini harus ada sejak dari awalnya.

2. Kuatkan diri Anda dan jangan goyah. Jangan berpikir sedetik pun untuk coba-coba diperkosa dan minta diperkosa. Nanti Anda ketagihan seperti saya, susah untuk mengembalikan nurani Anda ke jalan yang benar. Karena sekali Anda merasakan nikmatnya, Anda akan menanggung akibatnya.

3. Jujurlah terhadap diri Anda. Kalau sebuah tawaran datang kepada Anda, coba pikirkan masak-masak. Bukan hanya memikirkan uang atau imbalan lainnya yang akan Anda terima, tetapi akibat dari apa yang akan Anda terima setelah menyetujui tawaran itu.

Bila setelah Anda pikir masak-masak dan tawaran itu Anda rasa melawan nurani, katakan kepada yang memberi tawaran itu bahwa Anda tak bisa melakukannya. Saya katakan masak-masak, karena saya sarankan untuk tidak berpikir setengah masak. Itu mengapa saya mudah diperkosa karena berpikirnya hanya setengah. Setengah maksa, setengah masak, maksudnya.

4. Kalau Anda mau diperkosa dan ada harga yang harus Anda bayar, maka ketika Anda memutuskan tidak mau diperkosa, ada juga harga yang harus Anda bayar.

Bisa jadi Anda akan kehilangan kedudukan, dikesali teman sejawat, atau bahkan terpaksa dikeluarkan dari perusahaan. Mungkin juga ada yang minggu depan sudah tak bisa menghirup oksigen. Ketidakmauan Anda diperkosa bisa menjadi ancaman buat pimpinan Anda bahkan perusahaan Anda, terutama bila yang mau memperkosa Anda (baca: klien) memberi billing ke perusahaan Anda sekian puluh miliar rupiah.

5. Jangan pernah menjerumuskan orang lain dalam pemerkosaan bila Anda yang sebetulnya ingin diperkosa.

6. Maka berbahagialah orang yang bertahan untuk tidak diperkosa dan hidup dalam kebahagiaan batin meski harta hanya seimpirt-imprit, hatinya bersih. "Aku tuh pengen banget ya, Mas, enggak diperkosa, terus tetap kaya dan enggak usah kerja. Gimana dong, Mas. Maaas, ayo dong tolongin saya," celetuk teman saya. ***

posted by Kaki Langit. on Friday, June 14, 2007 | permalink

AKU BISA BERBEDA

Beberapa minggu lalu, saya mengunjungi sebuah panti asuhan untuk anak-anak yang sengaja dibuang ayah ibunya, gara-gara sebuah permainan cinta yang terlarang, yang tak mereka sanggupi untuk mempertanggungjawabkannya. Karena tak sanggup, maka rumah semacam ini yang harus sanggup dan harus bertanggung jawab atas hasil "keringat" mereka.

Masih ingatkah Anda saya pernah menuliskan hal ini, meski sekilas saja?

Saya harap Anda tak lupa, kalaupun lupa itu tak jadi masalah. Saya juga sering lupa khotbah di rumah ibadah, bahkan sejam setelah keluar dari tempat pengakuan dosa itu. Apalagi kalau ditanya pembicaraan beberapa minggu lalu.

Maka, saya mengerti kalau kehidupan spiritual saya majunya tersendat-sendat. Kadang saya berpikir, saya duduk-duduk di gereja itu untuk apa, kalau saya bisa segera lupa apa yang diberitakan. Yaa…, karena saya duduk di tempat itu seperti duduk di ruang kuliah yang tak saya minati. Jadi, kalau sudah tak berminat dan dilakukan sebagai sebuah kewajiban, apa pun yang diberi tahu tak bisa nyantol di kepala.

Antidot

Siang itu saya dan teman-teman berkumpul di panti asuhan yang cukup asri, yang tak berpendingin ruangan, dan cukup membuat keringat kami yang tak pernah kesusahan memiliki pendingin ruangan ini, tak menetes seperti di lapangan sepak bola. Kami menyanyi, menggendong mereka, bermain, dan aktivitas lainnya untuk membuat mereka melupakan sejenak kesusahan yang saya pikir belum mereka rasakan. Saya keliru besar.

Dan terutama untuk saya, kunjungan di Sabtu siang itu seperti antidot untuk sejuta dosa yang saya lakukan. Alasan yang lebih esensial adalah untuk mempunyai sebuah jawaban tepat kalau tiba-tiba saya mati dan disodorkan pertanyaan. "Samuel, Samuel, apakah yang telah kamu lakukan di dunia untuk Aku?" Maka saya akan dengan ringan menjawab pertanyaan itu. "Ya Tuhan, saya sudah menghibur anak-anak terbuang ini." Saya seperti sedang bermain matematika bersama Sang Khalik.

Selama berada di rumah penuh "luka batin" itu, saya rasanya ingin menangis. Bukan karena melihat anak-anak kecil ini hadir sekadarnya di dunia akibat persatuan satu tubuh dari dua—bisa jadi lebih—manusia yang mungkin tak saling cinta dan yang mau icip-icip enaknya pergaulan bebas. Bukan juga untuk bersyukur bahwa bagaimanapun menyebalkan orangtua saya dahulu, saya masih mengetahui yang mana ayah saya dan yang mana ibu saya.

Saya menangis karena cinta yang utuh selalu tersedia di dalam rumah saya, dan saya nyaris tak melihat itu di relung hati manusia kecil ini. Bagaimana mereka merasakan cinta dari sosok yang membuang mereka? Katakan yang membuang mencintai mereka, adakah makhluk yang mencintai sepenuhnya dapat membuang yang dicintainya? Kemudian saya berpikir lagi. Dengan cinta yang utuh saja, saya tumbuh tak percaya diri, bagaimana dengan mereka? Bagaimana ketika ada badai yang menimpa, penghinaan dari mulut pedas manusia seperti saya?

Kalau seandainya di suatu hari, satu atau beberapa dari mereka akan menjadi pesaing para model, pemain sinetron, dan para penyanyi kondang, cerita miring apa yang akan menimpa mereka? Ini mungkin suara yang bisa mereka dapatkan. "Lo tau gak… doi kan anak haram." Dan, cerita masa lalu mereka akan menjadi makanan empuk untuk menaikkan penjualan majalah atau menaikkan rating acara para seleb di stasiun televisi.

Karena aku mencintaimu

Di "tempat pembuangan" itu, saya berpikir bahwa karena mereka kecil, mereka belum merasakan kepedihan itu. Saya keliru besar. Seorang pemimpin yayasan itu mengatakan, anak-anak kecil ini sangat suka untuk dikunjungi kaum pria ketimbang wanita, karena figur ayah yang dibutuhkan tak pernah tersedia di hadapan mereka.

Seorang anak kecil berkulit hitam, sejak awal sudah saya amati sebagai pengganggu teman-temannya. Ia tak segan mencabik buku dan gambar yang bukan miliknya. Dan puncaknya, ia melampiaskan amarah terpendamnya dengan membantingkan badannya ke lantai dan berguling-guling. "Udah biasa kok, Mas. Ya gitu itu kalau lagi sebel," kata seorang pengasuh.

Saya berkata dalam hati, sana biasa, aku tak biasa. Maka, saya berpikir untuk memeluknya. Tapi saya batalkan. Apalah gunanya pelukan saya yang sesaat itu? Apakah itu akan meredamkan amarahnya dan hatinya yang terluka? Mengapa selama ini saya tak pernah menyediakan waktu untuk memeluk mereka, dan malah lebih sering memeluk manusia yang tak sepantasnya saya peluk meski sejujurnya yang terlarang itu nikmatnya setengah mati.

Sepulang dari kegiatan yang untuk pertama kalinya saya lakukan itu, saya sangat kelelahan. Bahkan lebih melelahkan dari ritual olahraga saya yang satu jam lamanya itu. Saya kemudian berpikir, mengapa saya sering menjadi begitu sensitifnya, mudah naik pitam, mudah tersinggung, mudah menjadi jahat? Anak-anak kecil itulah yang memberanikan diri saya, untuk sejenak menengok ke belakang, ke masa kecil saya dahulu.

Meski saya dilingkupi cinta yang utuh, ternyata itu tak cukup membuat saya menjadi manusia yang tidak rapuh. Karena cinta yang keluar dari mulut orangtua kadang dalam bentuk yang menyakiti si kecil, tanpa mereka tahu itu menyakitkan, dan mereka akan mengatakan I did that because I love you. Bagaimana ada cinta dalam sebuah bentuk seperti ini. "Gitu aja gak bisa. Laki-laki cengeng, gitu aja nangis." Atau, "Kamu harus masuk ITB, Dasar... Guoblok." Dan sejuta perkataan manusiawi orangtua, yang dimaklumi sebagai sebuah ekspresi cinta. Adakah seseorang yang mencinta menggoblok-goblokkan seseorang yang dicintainya? Adakah seseorang yang mencinta memaksa orang yang dicintainya?

Kemudian saya tumbuh besar, fondasi yang sudah terluka itu makin terluka, karena di luar lingkungan rumah, mulut orang tak bisa diatur. "Benconnngggg… godain kita duong." Dan setelah luka begitu banyaknya, saya berubah menjadi serigala. Karena saya disakiti, maka kini giliran saya menyakiti mereka. Dan kemudian datang waktunya saya ingin menjadi domba. Saya membutuhkan cinta yang menerima saya apa adanya, dan sayangnya saya memperoleh di tempat yang salah.

Sekarang saya tahu, waktu saya berkeinginan memeluk si kecil di rumah asri penuh luka batin itu, sesungguhnya saya sedang berencana untuk memeluk diri saya sendiri, mencoba menyembuhkan luka batin yang dalam dengan sekali pelukan. Erat. Erat sekali. "Kalau bisa sampai sesak napas ya, bo," celetuk teman saya.

KILAS PARODI: "Because I Said So"

1. Waktu saya mahasiswa dahulu, saya berniat mengikuti sebuah lomba perancang mode. Oleh karenanya, saya mulai mempersiapkan dengan mulai menggambar di sore hari sepulang kuliah. Ayah saya lewat di depan saya. Melihat saya sedang menggambar, ia berkata: "Gambar-gambar kayak orang kurang kerjaan." Saya bertanya mengapa. Ia menjawab. Because I said so.

2. Waktu saya lulus SMP saya ingin masuk SMA swasta, ayah saya menyuruh ke sekolah negeri. Saya tanya mengapa? Ia menjawab. "Because I said so."

3. Waktu saya tak suka berenang, dan dipaksa dengan sejuta alasan mulia oleh ayah, termasuk karena itu olahraga murah meriah, saya tak setuju. Saya tanya mengapa harus berenang? Because I said so.

4. Kepala sekolah saya mengatai saya ayam tanpa otak di hadapan puluhan murid tanpa belas kasihan, dan tanpa mau mengerti saya memang bodoh matematika. Saya ingin sekali bertanya mengapa ia mempermalukan saya. Bisa jadi ia akan mengatakan because I said so.

5. Saya punya bos, saya katakan cover-nya sebaiknya begini dan begitu. Ia tak mau. Saya tanya mengapa? Because I said so.

6. Saya dipanggil bos saya, untuk mencabut artikel yang sudah dicetak dan siap diedarkan. Saya tanya mengapa? Ia memberikan alasan yang tak bisa saya terima. Saya ngotot menanyakan mengapa, ia menjawab, ini perintah atasan. Waktu itu saya berpikir, ia mendapat jawaban dari Tuhan. Ternyata, because I said so.

7. Saya tanya bos saya lagi (bos saya banyak). Bapak kapan mau bertemu saya? Kamis jam enam malam atau jumat jam sepuluh pagi? Ia membalas SMS saya. "Terserah kamu", demikian SMS itu berbunyi. Saya balas, "ya… kalau begitu Kamis jam enam malam." SMS saya dibalas. Isinya: "Jumat pagi saja." Saya ingin sekali bertanya, mengapa ia sampai perlu memberi kesempatan saya untuk menentukan, kalau pada akhirnya saya harus mengikutinya? Saya berkata dalam hati, kalau saja saya tanya mengapa, kok saya percaya kemungkinan ia akan mengatakan, because I said so.

8. Anak buah saya tanya: "Mas, deadline tulisannya boleh diundurin enggak?" Saya jawab. "Enggak!" Ia membalas lagi. "Kenapa?" Dengan tenang saya menjawab kembali. "Because I said so. Waduhhhh… rasanya enak sekali punya kuasa mengatakan itu.

9. Berhentilah melukai orang dengan mulut Anda. Coba cek mengapa mulut Anda berbisa. Mungkin gara-gara hati Anda yang terluka atau Anda merasa dibuang seperti anak-anak di panti asuhan itu. "Sembuhkan" batin Anda dahulu. Kalau Anda yang "sakit", sangat tidak pantas Anda membuat orang lain menjadi sakit. Berubahlah, semuanya belum terlambat, nasi belum menjadi bubur. Meski bubur ikan langganan saya di Jakarta Kota enaknya setengah mati. Bukan itu yang saya maksud.

10. Ini pesan dari teman saya. There are four things you can not recover. The stone after the throw, the word after it is said, the occasion after the loss, the time after its gone. ****HORAS


posted by Kaki Langit. on friday, June 16, 2007 | permalink

June 14, 2007

Tiga Penjahat

Tengah malam jumat kliwon, tiga orang penjahat kelas kakap yang menjadi musuh bebuyutan wiro gambleng berkumpul di sebuah rumah tua, milik seorang pengusaha tua yang sedang pergi melihat bini tuanya yang lagi hamil tua.Ketiga penjahat ini memiliki julukan yang menggemparkan dunia persinetronan (ehh..salah_maksudnya dunia persilatan kala itu). Yang paling tua dan bringas dipanggil dengan si brewok dari gua setan. Yang kedua si muka rata dan ketiga si tangan satu (tangan sebelahnya sering suka ngupil..makanya jarang dipakai).
Sebagai penjahat tertua, si jenggot merasa dah saatnya mereka harus menunjukkan kekuatan mereka masing-masing (show of the power). Tanpa banyak babibu..si jenggot dalam hitungan menit hilang dan kembali dengan muka yang penuh darah sambil tertawa mengatakan.."lihat, desa seberang sudah saya pukul rata dengan tanah. Semua penduduknya mati dalam hitungan menit"KEdua penjahat itu terdiam ketakutan karena wajah si brewok penuh dengan darah yang meleleh dari tangan dan senjatanya. Tapi senyuman si brewok dibalas si muka rata dengan menghilang dan kembali dalam hitungan beberapa satu menit. Tampang muka ratanya penuh dengan darah dan memegang golok yang penuh dengan darah. Sambl tertawa terbahak-bahak, ia memamerkan senjatanya dan menunjukkan desa yang lain yang baru saja dibakarnya. Si tangan satu, penjahat yang paling muda gak mau kalah dengan senior-seniornya. Dalam hitungan detik pergi dan kembali dengan wajah yang lebih menyeramkan dari kedua penjahat sebelumnya. Ini membuat kedua penjahat sebelumnya angkat tangan dan salut dengan ketangkasan dan keberanian di tangan satu. Dengan wajah yang penuh luka, si tangan satu bertanya kepada kedua penjahat sebelumnya. "Kalian liat gak tiang besi yang ada di depan sana??"
Kedua penjahat menjawab dengan nada ketakutan. "Lihat..disana memang banyak anak muda yang ngumpul, apa kamu telah membunuhnya dengan sangat sadis juga?"
"Tapi aku gak melihatnya"??jawab si tangan satu

June 10, 2007

Sifat cowok

7 sifat cowok:

1. Kreatif
2. Ambisius
3. Modern
4. Pesimis
5. Radikal
6. Eksotik
7. Tangguh

Kalau disingkat, sifat cowok itu K. A. M. P. R. E. T. :D

Udah selesai ketawanya? Atau masih belum merasa lucu?

Kera ajaib

Sehabis ngintip pria mandi, seekor kera ketawa, “Aneh banget tuh ekor, udah pendek letaknya di depan pula.” Sambil ketawa tergopoh gopoh..kedua kera dikejutkan dengan erangan sang kera yang ketiga. Ini membuat kedua kera yang laen heran dan takjub bener..
Kera 1 : Ada apa nyet..kog kamu mengerang kesedihan gitu??
Kera 2 : Apa ada yang narik ekor kamu tuh
Kera 3 : Gak broo..ada yang baca tulisan aku tuh..coba liat??
"YANG BACA ADALAH MONYET AJAIB"
Kera lain senyum-senyum sambil baca tulisan ini…

Udah selesai ketawanya? Atau masih belum merasa lucu? Baca lagi humor yang lain

Ngeri Banget

Suatu hari Pakde saya datang ke rumah dengan muka pucat. Padahal biasanya dia selalu ceria dan banyak omong, tapi hari itu dia diam saja seperti orang ketakutan. Karena penasaran, aku bertanya, “Kenapa, Pakde? Kok diem aja? Sakit?”
“Nggak, nggak sakit. Pakde cuma masih ngeri aja tadi abis liat tabrakan. Loh, ngeri banget!”
“Tabrakan di mana, Pakde?”
“Di dekat gedung Pemadam Kebakaran yang di sampingnya ada sungai Cipinang,” jawab pakde.
“Di situ emang sering tabrakan, Pakde! Soalnya tikungannya tajam,” ujarku.
“Wah, pokoknya ngeri deh! Sadis banget tabrakannya! Pakde aja sampe sekarang mual-mual pengen muntah kalo kebayang tabrakan yang tadi…” kata Pakde.
“Kejadiannya gimana, Pakde?”
“Tadi Pakde kan lewat jembatan di atas sungai di samping gedung Pemadam. Kecepatannya tinggi banget! Tau-tau ‘Brakkk!!!’ Hancur deh semuanya berkeping-keping.”
“Yang nabrak motor atau mobil?” tanyaku.
“Bukan motor juga bukan mobil.”
“Sepeda?”
“Bukan juga.”
“Apa dong? Masa becak? Kan di situ nggak ada becak?”
“Yang Pakde liat itu tabrakan yang terjadinya di sungai, bukan di jalan rayanya.”
“Maksud Pakde???”
“Begini, di tengah sungai itu kan ada kayu balok melintang. Nah, yang nabrak itu bentuknya bulat lonjong warnanya kuning. Dengan kecepatan tinggi, si kuning itu menabrak kayu sampe hancur!! Pecah ke mana-mana…! Iiihhh…mual deh kalo kebayang… hehehe.”
“Brengsek! Dasar pakde gila!” :D
Udah selesai ketawanya? Atau masih belum merasa lucu? Baca lagi humor yang lain

Mengenal Karakter Wanita

Dengan memahami bentuk wajah seorang wanita, kita dapat mengetahui gairah seksnya sehingga bisa dijadikan pedoman untuk mencari pasangan yang cocok. Berikut ini adalah ciri-ciri wanita berdaya seks tinggi.

1. Wanita dengan ciri mulut mungil, lebar dahi sedang, rambut tebal, kulit kuning, badan tegak, kaki kecil, payudara menonjol, nah dalam urusan ranjang ia sangat piawai, bahkan bisa disebut sebagai ‘master of sex’. Banyak pria memburu wanita yang seperti ini. Jadi jangan sampai kehabisan, tapi awas banyak yang palsu!

2. Wanita dengan ciri bibir tipis, wajah bulat, kulit hitam, tubuh kecil, tubuh tidak gemuk. Untuk urusan seks, wanita ini juga luar biasa dan tahan lama karena memiliki energi dan daya tahan yang ruarrrrr biasa! Kalo baterai, ini termasuk jenis Alkaline super heavy duty!

3. Selanjutnya, wanita dengan ciri rambut hitam tebal berombak dan berkilau. Sorot matanya hidup dan bercahaya. Wanita seperti ini gairah seksnya tinggi dan menurut bergaya posisi apapun. Keinginan suaminya adalah darma baktinya… mantaap…, tapi hati-hati salah urat.

4. Wanita dengan ciri wajah oval, mata besar, mulut lebar serta giginya tidak rata, rambut hitam panjang, postur tubuh kecil, warna kulit kemerahan, tumitnya indah. Nah, kalo wanita seperti ini pandai menciptakan suasana pemanasan yang romantis dan mampu mengantar pasangannya ke puncak kenikmatan… nyam… nyammm… nyam…

5. Terakhir, wanita dengan ciri berwajah dingin namun cantik, sorot mata tajam, kulit putih pucat, rambut panjang sepinggang, senang memakai baju putih. Wanita ini mempunyai semua kehebatan no. 1 sampai no. 4, tapii… cek dulu, punggungnya bolong apa nggak? Jangan-jangan kuntilanak, tapi kalo enak terserah aja.

Pedoman di atas adalah benar sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. :D

Udah selesai ketawanya? Atau masih belum merasa lucu? Baca lagi humor yang lain

Jangan Makan Nasi

Hasil research yang baru saja dilakukan membuktikan bahwa makan nasi ternyata tidak baik bagi kita.

Buktinya :
1. NASI MENYEBABKAN KECANDUAN. Responden kami yang tidak makan nasi selama sehari saja akan kelaparan dan merasa sangat ingin makan nasi lagi.
2. SETENGAH dari seluruh siswa Indonesia yang makan nasi nilainya ada di bawah rata-rata kelas.
3. Suku-suku pada zaman batu yang tidak pernah makan nasi terbukti TIDAK PERNAH mengidap tumor, Alzheimer, osteoporosis, ataupun Parkinson.
4. Dokter melarang bayi yang baru lahir untuk makan nasi. Hal ini menjadi bukti bahwa nasi punya dampak berbahaya yang sudah dibuktikan oleh ilmu kedokteran.
5. Nasi yang kering biasa dimakan oleh ayam. Nah, sekarang anda perlu curiga dari mana flu burung berasal.
6. Jumlah pemakan nasi di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pemakan nasi di negara maju. Ini mungkin salah satu penyebab keterbelakangan pada negara ini.
7. Di warung-warung, biasanya KULI makan nasi dalam jumlah lebih banyak daripada kaum
eksekutif. Hal ini membuktikan bahwa makan nasi MENURUNKAN kemampuan ekonomi seseorang.
9. Makan nasi dapat menyebabkan rasa haus alias MENYERAP air. Padahal tubuh kita sebagian besar terdiri dari air.
10. Dalam kondisi tertentu, makan nasi MENINGKATKAN resiko kematian. Misalnya makan nasi sambil menyetir mobil.
11. Pengidap DIABETES lebih dianjurkan makan kentang daripada nasi. Berarti nasi kurang baik bagi kesehatan.
12. Makan nasi menyebabkan keinginan mengkonsumsi sayur dan lauk. Misalnya nasi bandeng (nasi + bandeng goreng), nasi kucing (nasi + kucing goreng), dsb. Hal ini bisa menyebabkan obesitas.
13. Nasi mengandung ZAT BESI yang konfigurasi elektron terluarnya 4s2. Zat lain yang
elektron terluarnya 4 adalah Racun ARSENIK (4p3), Batu batere TITANIUM (4s2), dan racun yang menyerang Superman yaitu KRIPTON (4p6). Ini mengindikasikan bahwa nasi punya kesamaan dengan zat-zat berbahaya lainnya.
15. Nasi DIMASAK dalam suhu lebih dari 100 derajat Celsius. Itu panas yang cukup untuk membunuh orang.
16. Anda pasti akan melihat ke atas lagi untuk membuktikan No. 8 dan No. 14 Tidak ada. :p

Udah selesai ketawanya? Atau masih belum merasa lucu? Baca lagi humor yang lain.

June 9, 2007

DPR DAN LAPTOP

Ketika pembagian laptop yang baru kemaren diberitakan di mass media, beberapa anggota DPR dengan pakaian resmi mendatangi sebuah counter Laptop yang sangat tersohor di daerah Mangga Dua.
Anggota DPR : "Mba, laptopnya salah."
Customer Service: "Salah gimana pak?"
Anggota DPR : "Laptopnya nggak mau hidup."
Customer Service: "Sudah coba tekan tombol power pak?"
Anggota DPR : "Tombol powernya sebelah mana mba?"
Customer :"Wahh..sama adeh"
******************************************************************

Anggota DPR : "Mba, saya mau konek ke internet nggak bisa, kenapa ya?"
Customer service: "Nggak bisanya kenapa?"
Anggota DPR : "Saya ketik www.playboy. com, gambarnya nggak keluar."
Customer service: "Pesan errornya apa pak?"
Anggota DPR : "Nggak ada pesan error, pokoknya saya ketik
playboy.com di addressnya, nggak muncul gambar sama sekali."
Customer service: "Bapak koneksi internetnya pakai apa, dial up,hotspot?"
Anggota DPR : "Pakai gambar yg ada tulisan e (maksudnya internet explorer)."
Customer service: "Maksudku, bapak langganan internetnya pakai ISP apa,
lalu cara koneksi internetnya pakai dial-up atau hotspot, mungkin
settingnya ada yg salah."
Anggota DPR : "ISP itu apa sih mba?"
Customer service: "Wah ini sih 50 x 2 pak.."
Anggota DPR : "Apa tuh mba?"
Customer service: " CAPE ' DEH!!"

******************************************************************

Anggota DPR : "Mba' saya ingin daftar account di yahoo.com kok nggak bisa ya?"
Customer service: "Nggak bisa kenapa pak?"
Anggota DPR : " Ada tulisan, paswort is nat long inof, suld bi mor
ten 8 karakter"
Customer service: "Itu maksudnya, password bapak minimal 8 huruf."
Anggota DPR : "Oooo...oke deh.., saya coba dulu."
Anggota DPR : "Mba password minimal delapan huruf itu delapannya
pakai angka 8 atau ejaan delapan?"
Customer service: "Maksudnya?"
Anggota DPR : "Saya suda tulis di kolom password minimal 8 huruf,
tapi bingung mau tulis delapannya, pakai angka delapan atau ejaan huruf 'delapan'."
Customer service: "Ketik ini aja pak..C Spasi D."
Anggota DPR : "Apa tuh?"
Customer service: " CAPE ' DEH !!!"

******************************************************************

Anggota DPR: "Mba' kalau muter film di laptop, gimana caranya ya?
CS : " Ada dvd playernya kan pak?"
Anggota DPR: "Sebelah mana tuh mba?"
CS : "Disamping kanan, pak. kalau di tekan tombolnya nanti,
piringan discnya keluar."
Anggota DPR: "Ooooo.... yang keluar itu, piringan disc ya? Udah patah tuh kemarin."
CS : "Kok bisa patah?"
Anggota DPR: "Saya kira tempat buat naruh gelas minuman."

******************************************************************

Anggota DPR: "Komputer saya rasanya kena virus"
CS : "Virus apa tuh pak?"
Anggota DPR: "Kurang tahu juga, setiap mau cetak ke printer, selalu ada
tulisan kennot fain printer."
CS : "Itu mungkin salah setting pak."
Anggota DPR: "Settingnya udah bener kok, kemarin aja bisa nyetak, tapi sekarang nggak bisa. Saya sudah tunjukkin printernya di depan laptop, tetap aja dia terus-terusan "searchng printer not found." Kayaknya webcamnya rusak, nggak bisa lihat printer."
CS : "Mendadak laper nih Pak, ingin makan tape.."
Anggota DPR: "Lho..kok begitu?"
CS : "TAPE DEH !!!!"

*****************************************************************

Anggota DPR: "Mba, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?"
CS : "Bapak cari aja di google."
Anggota DPR: "Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mba, saya tahu persis."
CS : Capeeek deeehhh..... ......... .... !!!!