June 15, 2007

AKU BISA BERBEDA

Beberapa minggu lalu, saya mengunjungi sebuah panti asuhan untuk anak-anak yang sengaja dibuang ayah ibunya, gara-gara sebuah permainan cinta yang terlarang, yang tak mereka sanggupi untuk mempertanggungjawabkannya. Karena tak sanggup, maka rumah semacam ini yang harus sanggup dan harus bertanggung jawab atas hasil "keringat" mereka.

Masih ingatkah Anda saya pernah menuliskan hal ini, meski sekilas saja?

Saya harap Anda tak lupa, kalaupun lupa itu tak jadi masalah. Saya juga sering lupa khotbah di rumah ibadah, bahkan sejam setelah keluar dari tempat pengakuan dosa itu. Apalagi kalau ditanya pembicaraan beberapa minggu lalu.

Maka, saya mengerti kalau kehidupan spiritual saya majunya tersendat-sendat. Kadang saya berpikir, saya duduk-duduk di gereja itu untuk apa, kalau saya bisa segera lupa apa yang diberitakan. Yaa…, karena saya duduk di tempat itu seperti duduk di ruang kuliah yang tak saya minati. Jadi, kalau sudah tak berminat dan dilakukan sebagai sebuah kewajiban, apa pun yang diberi tahu tak bisa nyantol di kepala.

Antidot

Siang itu saya dan teman-teman berkumpul di panti asuhan yang cukup asri, yang tak berpendingin ruangan, dan cukup membuat keringat kami yang tak pernah kesusahan memiliki pendingin ruangan ini, tak menetes seperti di lapangan sepak bola. Kami menyanyi, menggendong mereka, bermain, dan aktivitas lainnya untuk membuat mereka melupakan sejenak kesusahan yang saya pikir belum mereka rasakan. Saya keliru besar.

Dan terutama untuk saya, kunjungan di Sabtu siang itu seperti antidot untuk sejuta dosa yang saya lakukan. Alasan yang lebih esensial adalah untuk mempunyai sebuah jawaban tepat kalau tiba-tiba saya mati dan disodorkan pertanyaan. "Samuel, Samuel, apakah yang telah kamu lakukan di dunia untuk Aku?" Maka saya akan dengan ringan menjawab pertanyaan itu. "Ya Tuhan, saya sudah menghibur anak-anak terbuang ini." Saya seperti sedang bermain matematika bersama Sang Khalik.

Selama berada di rumah penuh "luka batin" itu, saya rasanya ingin menangis. Bukan karena melihat anak-anak kecil ini hadir sekadarnya di dunia akibat persatuan satu tubuh dari dua—bisa jadi lebih—manusia yang mungkin tak saling cinta dan yang mau icip-icip enaknya pergaulan bebas. Bukan juga untuk bersyukur bahwa bagaimanapun menyebalkan orangtua saya dahulu, saya masih mengetahui yang mana ayah saya dan yang mana ibu saya.

Saya menangis karena cinta yang utuh selalu tersedia di dalam rumah saya, dan saya nyaris tak melihat itu di relung hati manusia kecil ini. Bagaimana mereka merasakan cinta dari sosok yang membuang mereka? Katakan yang membuang mencintai mereka, adakah makhluk yang mencintai sepenuhnya dapat membuang yang dicintainya? Kemudian saya berpikir lagi. Dengan cinta yang utuh saja, saya tumbuh tak percaya diri, bagaimana dengan mereka? Bagaimana ketika ada badai yang menimpa, penghinaan dari mulut pedas manusia seperti saya?

Kalau seandainya di suatu hari, satu atau beberapa dari mereka akan menjadi pesaing para model, pemain sinetron, dan para penyanyi kondang, cerita miring apa yang akan menimpa mereka? Ini mungkin suara yang bisa mereka dapatkan. "Lo tau gak… doi kan anak haram." Dan, cerita masa lalu mereka akan menjadi makanan empuk untuk menaikkan penjualan majalah atau menaikkan rating acara para seleb di stasiun televisi.

Karena aku mencintaimu

Di "tempat pembuangan" itu, saya berpikir bahwa karena mereka kecil, mereka belum merasakan kepedihan itu. Saya keliru besar. Seorang pemimpin yayasan itu mengatakan, anak-anak kecil ini sangat suka untuk dikunjungi kaum pria ketimbang wanita, karena figur ayah yang dibutuhkan tak pernah tersedia di hadapan mereka.

Seorang anak kecil berkulit hitam, sejak awal sudah saya amati sebagai pengganggu teman-temannya. Ia tak segan mencabik buku dan gambar yang bukan miliknya. Dan puncaknya, ia melampiaskan amarah terpendamnya dengan membantingkan badannya ke lantai dan berguling-guling. "Udah biasa kok, Mas. Ya gitu itu kalau lagi sebel," kata seorang pengasuh.

Saya berkata dalam hati, sana biasa, aku tak biasa. Maka, saya berpikir untuk memeluknya. Tapi saya batalkan. Apalah gunanya pelukan saya yang sesaat itu? Apakah itu akan meredamkan amarahnya dan hatinya yang terluka? Mengapa selama ini saya tak pernah menyediakan waktu untuk memeluk mereka, dan malah lebih sering memeluk manusia yang tak sepantasnya saya peluk meski sejujurnya yang terlarang itu nikmatnya setengah mati.

Sepulang dari kegiatan yang untuk pertama kalinya saya lakukan itu, saya sangat kelelahan. Bahkan lebih melelahkan dari ritual olahraga saya yang satu jam lamanya itu. Saya kemudian berpikir, mengapa saya sering menjadi begitu sensitifnya, mudah naik pitam, mudah tersinggung, mudah menjadi jahat? Anak-anak kecil itulah yang memberanikan diri saya, untuk sejenak menengok ke belakang, ke masa kecil saya dahulu.

Meski saya dilingkupi cinta yang utuh, ternyata itu tak cukup membuat saya menjadi manusia yang tidak rapuh. Karena cinta yang keluar dari mulut orangtua kadang dalam bentuk yang menyakiti si kecil, tanpa mereka tahu itu menyakitkan, dan mereka akan mengatakan I did that because I love you. Bagaimana ada cinta dalam sebuah bentuk seperti ini. "Gitu aja gak bisa. Laki-laki cengeng, gitu aja nangis." Atau, "Kamu harus masuk ITB, Dasar... Guoblok." Dan sejuta perkataan manusiawi orangtua, yang dimaklumi sebagai sebuah ekspresi cinta. Adakah seseorang yang mencinta menggoblok-goblokkan seseorang yang dicintainya? Adakah seseorang yang mencinta memaksa orang yang dicintainya?

Kemudian saya tumbuh besar, fondasi yang sudah terluka itu makin terluka, karena di luar lingkungan rumah, mulut orang tak bisa diatur. "Benconnngggg… godain kita duong." Dan setelah luka begitu banyaknya, saya berubah menjadi serigala. Karena saya disakiti, maka kini giliran saya menyakiti mereka. Dan kemudian datang waktunya saya ingin menjadi domba. Saya membutuhkan cinta yang menerima saya apa adanya, dan sayangnya saya memperoleh di tempat yang salah.

Sekarang saya tahu, waktu saya berkeinginan memeluk si kecil di rumah asri penuh luka batin itu, sesungguhnya saya sedang berencana untuk memeluk diri saya sendiri, mencoba menyembuhkan luka batin yang dalam dengan sekali pelukan. Erat. Erat sekali. "Kalau bisa sampai sesak napas ya, bo," celetuk teman saya.

KILAS PARODI: "Because I Said So"

1. Waktu saya mahasiswa dahulu, saya berniat mengikuti sebuah lomba perancang mode. Oleh karenanya, saya mulai mempersiapkan dengan mulai menggambar di sore hari sepulang kuliah. Ayah saya lewat di depan saya. Melihat saya sedang menggambar, ia berkata: "Gambar-gambar kayak orang kurang kerjaan." Saya bertanya mengapa. Ia menjawab. Because I said so.

2. Waktu saya lulus SMP saya ingin masuk SMA swasta, ayah saya menyuruh ke sekolah negeri. Saya tanya mengapa? Ia menjawab. "Because I said so."

3. Waktu saya tak suka berenang, dan dipaksa dengan sejuta alasan mulia oleh ayah, termasuk karena itu olahraga murah meriah, saya tak setuju. Saya tanya mengapa harus berenang? Because I said so.

4. Kepala sekolah saya mengatai saya ayam tanpa otak di hadapan puluhan murid tanpa belas kasihan, dan tanpa mau mengerti saya memang bodoh matematika. Saya ingin sekali bertanya mengapa ia mempermalukan saya. Bisa jadi ia akan mengatakan because I said so.

5. Saya punya bos, saya katakan cover-nya sebaiknya begini dan begitu. Ia tak mau. Saya tanya mengapa? Because I said so.

6. Saya dipanggil bos saya, untuk mencabut artikel yang sudah dicetak dan siap diedarkan. Saya tanya mengapa? Ia memberikan alasan yang tak bisa saya terima. Saya ngotot menanyakan mengapa, ia menjawab, ini perintah atasan. Waktu itu saya berpikir, ia mendapat jawaban dari Tuhan. Ternyata, because I said so.

7. Saya tanya bos saya lagi (bos saya banyak). Bapak kapan mau bertemu saya? Kamis jam enam malam atau jumat jam sepuluh pagi? Ia membalas SMS saya. "Terserah kamu", demikian SMS itu berbunyi. Saya balas, "ya… kalau begitu Kamis jam enam malam." SMS saya dibalas. Isinya: "Jumat pagi saja." Saya ingin sekali bertanya, mengapa ia sampai perlu memberi kesempatan saya untuk menentukan, kalau pada akhirnya saya harus mengikutinya? Saya berkata dalam hati, kalau saja saya tanya mengapa, kok saya percaya kemungkinan ia akan mengatakan, because I said so.

8. Anak buah saya tanya: "Mas, deadline tulisannya boleh diundurin enggak?" Saya jawab. "Enggak!" Ia membalas lagi. "Kenapa?" Dengan tenang saya menjawab kembali. "Because I said so. Waduhhhh… rasanya enak sekali punya kuasa mengatakan itu.

9. Berhentilah melukai orang dengan mulut Anda. Coba cek mengapa mulut Anda berbisa. Mungkin gara-gara hati Anda yang terluka atau Anda merasa dibuang seperti anak-anak di panti asuhan itu. "Sembuhkan" batin Anda dahulu. Kalau Anda yang "sakit", sangat tidak pantas Anda membuat orang lain menjadi sakit. Berubahlah, semuanya belum terlambat, nasi belum menjadi bubur. Meski bubur ikan langganan saya di Jakarta Kota enaknya setengah mati. Bukan itu yang saya maksud.

10. Ini pesan dari teman saya. There are four things you can not recover. The stone after the throw, the word after it is said, the occasion after the loss, the time after its gone. ****HORAS


posted by Kaki Langit. on friday, June 16, 2007 | permalink