June 18, 2007

DoN’T JudGE a BOoK By iTS CovER

Pada suatu siang sambil makan ikan dan wortel rebus, saya mengobrol dengan teman pria yang bekerja di satu biro iklan terkemuka dan seorang perempuan muda berprofesi sebagai penata gaya paruh waktu di sebuah majalah mode perempuan.
Obrolan kami menyangkut soal pakaian yang mampu membuat teman pria saya dijebloskan ke hotel prodeo selama dua hari.
Begini ceritanya. Teman pria saya itu berlibur ke Bali dan seperti nyaris setiap manusia Jakarta yang berakhir pekan di Pulau Dewata, ke tempat hura-hura senantiasa ada dalam jadwal paling atas untuk dilakoni. Tak terkecuali teman pria saya itu.
Pada sebuah malam pada masa liburan itu, ia bersama teman-temannya ingin menghadiri pesta akbar kaum muda. Dengan mengendarai mobil, tibalah mereka di tempat penuh sukacita itu. Dengan banyaknya penggunaan narkoba yang nyaris senantiasa hadir dalam acara hura-hura semacam itu, pemeriksaan oleh aparat pun seketat korset di tubuh perempuan, agar payudara dapat tampak indah dan pinggang langsung bisa langsing seketika, meski untuk sesaat saja. Mirip narkobalah.

RaMPaS "COuTuRE"
Sialnya, pemeriksaan ketat oleh aparat itu membuahkan hasil tertangkapnya seorang dari empat pria di dalam mobil itu. Teman pria saya naik darah karena kemudian aparat memvonis keempat manusia dalam satu mobil itu bersalah. Padahal, hanya satu rekan mereka yang sembunyi-sembunyi membawa "makanan" yang katanya nikmat itu. Tak ada kompromi, keempatnya dijebloskan ke hotel prodeo berbintang satu itu. Yang berbintang lima, Anda tahu di mana tempatnya, bukan?
Teman perempuan saya menambahkan—ia kebetulan datang juga ke pesta akbar itu—"Lagian Mas, dia ini (sambil menunjuk ke teman pria saya itu), penampilannya mirip preman. Rambutnya diwarnai merah, sudah begitu bajunya merah, bertato pula. Bagaimana polisi mau percaya melihat penampilan kayak gitu sebagai pria baik-baik. Ya, kan?" katanya menjelaskan dengan suara tinggi.
Saya tak tahu apakah saya akan membenarkan pertanyaan itu. Tetapi, ceritanya menginspirasi saya menulis "Parodi" pada hari Minggu ini.
Pakaian yang dikenakan seseorang—tentu didasari seleranya masing-masing—ternyata mampu membuat orang lain memberi label, bahkan menghakimi. Jadi, bila ada pepatah bilang don’t judge a book by its cover, maka sekarang harus ada pepatah baru, don’t judge a look by its clothes.
Saya kemudian bertanya, apakah benar tampilan preman seperti yang dikatakan teman perempuan saya itu? Badan berotot, perut buncit, besar, hitam, bertato, merokok, muka sangar, dan rambut dicat?
Padahal, mungkin saja ada preman pakai setelan resmi bermerek, preman yang mulus dan wangi, duduk-duduk di kafe dan hotel papan atas. Jadi, saya bingung untuk mengiyakan pertanyaan itu.
Dua minggu lalu saya duduk-duduk di sebuah kafe. Salah satu pramusajinya memperingatkan saya agar tas kerja saya dijaga baik-baik. Kata dia, beberapa hari lalu maling yang tertangkap mencuri tas salah satu pengunjung, berpakaian sangat necis dan berdasi, bersama seorang perempuan yang penampilannya bukan penampilan maling.
Saya bingung lagi. Bagaimanakah penampilan sesungguhnya seorang maling dan yang bukan maling itu? Necis dan pakai dasi, atau tidak necis serta tidak pakai dasi? Karena saya dan Anda pasti tahu ada banyak maling pakai dasi dan yang tanpa dasi, bukan? Teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan kosmetik baru kecolongan uang perusahaannya berjuta-juta rupiah oleh sang manajer pemasaran yang kebetulan pernah diperkenalkan kepada saya.
Ceritanya nyaris tak saya percayai karena kalau mengingat sosok si manajer pemasaran, dia adalah perempuan sangat anggun, berbicara sangat halus dan santun, sangat cantik, mirip wajah seorang socialite, rasanya tak mungkin ia pencuri. Alhasil, ia malah kini jadi buron. Menurut cerita tambahannya, di perusahaan sebelumnya, perempuan anggun itu juga telah melakukan hal yang sama,
"Booo..., kalau itu namanya maling couture, ya?" celetuk teman saya.

MaJU TaK GeNTaR MEmBeLA YaNG BaYAR

Pakaian yang dikenakan ternyata dapat digunakan sebagai alat kamuflase pribadi sesungguhnya. Dokter berseragam putih yang artinya suci, ternyata bisa saja si putih bukanlah si suci. Mereka yang berkoar-koar soal hidup harus dalam kebenaran, malah bisa saja paling tak benar. Bahkan, mereka yang menyebut dirinya sebagai pelindung juga tak menjamin mereka pelindung yang benar-benar mau melindungi. Meminjam ucapan Gde Prama di sebuah seminar, "Maju tak gentar membela yang bayar.""Gue sebal banget. Gue selama ini hidup berusaha benar, enggak pernah pakai narkoba, kok yaaa… gue akhirnya masuk bui dua hari," kata teman pria saya itu.Ia melanjutkan ceritanya lagi, aparat langsung menuduh mereka sama saja. Saya berkata dalam hati, mungkin polisinya saat itu punya falsafah, karena nila setitik rusak semua di dalam mobil, tanpa mau memberi ruang untuk mendengar. Apalagi melihat cara berpakaian yang katanya ala maling atau preman itu.Saya tersinggung mendengar kalimat yang keluar dari nurani saya sendiri itu. Tanpa mau memberi ruang untuk mendengar. Saya jarang sekali mau memberi ruang untuk mendengar, untuk memberi kesempatan, untuk melatih memercayai dan memercayai kembali setelah kesalahan diperbuat seseorang, saya jarang untuk tidak memvonis seseorang dari tampilan luarnya."Aduh teman gue punya anak narkoba, semua barang-barang habis dijual, suka bohong dan enggak bisa dipercaya," kata teman saya.Katakan itu benar, saya memang harus berhati-hati, tetapi itu tidak berarti kalau ada kejadian barang yang hilang saya bisa dengan mudah dan langsung menudingkan telunjuk saya kepada dia. Karena selain barang saya pernah hilang dicolong manusia bebas narkoba, saya pun adalah manusia yang tak bisa dipercaya. Kalaupun bisa, cuma musiman. Kalau melihat negeri tercinta ini, bukankah sudah banyak uang hilang dari mereka yang bukan pengguna narkoba?"Makanya Mas, kalau mau jadi serigala enggak usah pakai bulu domba," kata teman perempuan saya."Terus pakai apa dong?" tanya saya."Yaaa, pakai bulu sendiri laah... yao. Kurang tebal emang, sampai perlu minjem?" balas dia.

KiLaS Pa' RoDI
TErBUkA DaN MEnDeNGaRLaH

1. Ini jarang bisa saya lakukan.
"Boong…. Lo bukannya paling gampang buka-buka? Buka borok orang, maksudnya," kata teman saya.
Saya menyetujui. Saya sangat gampang melakukan itu. Tak hanya membuka, saya bahkan akan menyimpan borok itu selama mungkin kalau bisa. Itu baru satu orang, dan masih ada beberapa orang lain. Karena saya membiarkan demikian, maka saya menumpuk kotoran dalam hati yang membuat saya kalau bertemu dengan yang bersangkutan saya sudah tak memercayainya.
Padahal, cerita keborokan orang lain itu umumnya karena saya mendapat informasi dari orang lain, bukan karena pengalaman sendiri dengan yang bersangkutan. Cerita yang masuk ke telinga saya pun sebetulnya tak sepenuhnya bisa dipercaya, bukan? Banyak bumbu penyedap yang sekarang ditawarkan dan saya memilih terbuka dan mendengar sesuatu yang belum tentu benar itu ketimbang menjadi terbuka dan mendengar serta diam saja.
2. Saya pernah memarahi anak buah saya dan tak memberi kesempatan kepadanya untuk bercerita. Maka, ketika saya membiarkan mulut saya mengeluarkan amarah membabi buta bak mahasiswa Korea di Virginia dengan senjata dan amunisinya yang banyak dan mampu menewaskan puluhan orang, anak buah saya diam saja. Tentu saja saya mengerti mengapa dia diam saja, la wong saya pernah jadi anak buah dan mengalami hal yang sama. Tak ada gunanya membela diri di tengah kobaran amarah atasan.
Selang dua jam kemudian, ia mendatangi saya. Ia kemudian menjelaskan mengapa ia tak bisa datang tepat waktu seperti dijanjikan. "Ibu saya masuk rumah sakit, Mas. Saya tadi mengantar beliau, kemudian baru ke kantor. Maaf saya tak sempat memberi tahu."
3. Maka, saudara-saudara yang kukasihi, berilah ruang di telinga dan hati Anda untuk mendengar. Sejenak saja. Kadang dengan mendengar, Anda mungkin tak perlu sampai harus dipermalukan. Kalaupun Anda seorang atasan, aparat keamanan, atau apa saja, cobalah untuk terbuka dan mendengar terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan menghakimi. Kalau Anda tak mau, coba sekarang bayangkan Anda yang menjadi pihak yang sedang membutuhkan telinga yang mendengar.

posted by Kaki Langit. on MoNday, June 18, 2007 | permalink|HoRaS BaH